Obed Bima Chandra, Bonek, Dosen, Dan Muralis; “Saya Kurang Suka Eksklusifitas Di Kalangan Supporter”

0
286
Menjadi Narasumber Di Sebuah Acara (Dok Pribadi OBC)

Surabaya, GreenForce– Persebaya menjadi kebanggaan pecinta-nya yang menyebar di seluruh dunia, namun pendukungnya juga harus di kabarkan dari setiap kehebatan yang di miliki, dan itu akan selalu beriringan se-jalan, se-iring, se-irama bersama Persebaya.

Bonek, pendukung Persebaya ini terus menerus memperbaiki diri sebagai pendukung klub besar, satu diantara itu, seorang dosen, penulis, dan seniman asal Kediri yang menghiasi kehebatan bonek lainnya.

Pak Dosen Obed Bima Chandra Ber-swa foto Dengan Mahasiswa dan Dosen Pecinta Persebaya. (Dok Pribadi OBC)

Adalah Obed Bima Chandra. Mahasiswa UK Petra tentu tak asing dengan dosen multi-talenta ini. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta (lulus 2001) dan UGM Yogyakarta (lulus 2010) dalam kesempatan ngobrol bareng pria kelahiran 1977 ini, greenforce akan merangkum dalam tanya jawab (Q&A), greenforce (Gf) dan mas Dosen (OBC).

Selamat pagi mas obed, senang dapat berbincang-bincang dengan mas yang dikenal sebagai dosen dan pegiat seni jalanan ini.

 

(Gf)            : Sebagai dosen, apakah mas obed membina komunitas bonek di kampus Petra?

(OBC)         : “Tidak. Hanya ramai-ramai nonton Persebaya pas ada pertandingan. Nonton di stadion atau nobar saja di ruang kelas kampus hehehehe …”

(Gf)            : Mas obed sebagai pengampu mata kuliah apa?

(OBC)         : “Estetika, Sejarah Seni Rupa, Sejarah Budaya Indonesia, Desain Sosiologi, dan Seni Jalanan. Tapi sekarang sedang cuti mengajar karena tugas belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.”

(Gf)            : Selain dosen mas yang dikenal sebagai penulis, ada berapa banyak buku yang mas rilis?

(OBC)         : “Hanya 1 buku yang sudah terbit, judulnya Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI (2017). Buku yang lain masih sedang dalam proses review penerbit, tentang Liverpool FC. Yang lain nulis buat jurnal ilmiah, pengelola jurnal kampus tentang desain komunikasi visual namanya “Nirmana”. Ikut nulis juga sebagai salah satu penulis dalam dua buku kumpulan artikel Bonek Writer Forum: Make Persebaya 92eat Again dan Tolak Bala Sepak Bola

(Gf)           : Mas obed juga memiliki talenta membuat mural/graffiti, sekarang sedang marak kembali, adakah artikel atau jurnal yang mas obed pernah tulis soal itu ?

(OBC)         : “Iya. Karena fokus akademik saya tentang seni jalanan, beberapa tulisan di jurnal dan media massa saya sering menulis tentang hal tersebut dan jadi rujukan bagi beberapa jurnal lain dan karya skripsi mahasiswa. Pada beberapa konferensi nasional, saya juga membawakan makalah tentang seni jalanan. Jika ditotal mungkin sekitar 20-an judul tulisan yang ada di semua media dan event mengenai seni jalanan. Termasuk juga makalah kecil buat bahan diskusi di Surabaya Street Art Forum-nya Xgo (SMS) dan juga pengantar pameran mengenai seni jalanan.”

(Gf)         : Bisa di ceritakan keterlibatan mas obed dalam mural sebelum marak seperti sekarang?

(OBC)         : “Tahun 2000 saya pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya. Saat itu saya sebagai mahasiswa magang di Jawa Pos yang kebetulan saat itu membuka desk Deteksi. Saya angkatan pertama Deteksi (bareng Iwan Iwe mantan EJ) di bagian desain grafis. Saat saya di Surabaya itu saya sudah tidak begitu nyaman karena suasanya yang kurang nyeni menurut saya, jika dibandingkan dengan Jogja. Tapi saya berkeyakinan, nyaman dan tidak nyaman kan tergantung kita sendiri. 2002 saya mulai mengajar di UK Petra. Di situlah saya banyak berinteraksi dengan mahasiswa. Berdiskusi dengan mereka mau bikin apa di Surabaya, biar gayeng. Menggelar pameran pun juga eksklusif. Kami dulu pengennya bikin sesuatu yang sekiranya bisa menyedot perhatian masyarakat luas. Dijadikan pergunjingan dan cemoohan hahahaha…lalu datanglah ide bikin Gerakan Mural Kota. Terus terang kami meniru program Mural Jogja di tahun sekitar itu.

Bikin seni publik bagi saya sebuah tantangan. Langkah pertama itu saya bikin seminar tentang mural di kampus Petra. Mendatangkan langsung tokoh mural Jogja, mas Samuel Indratma. Dia seniman terkenal hingga sekarang ini. Presiden mural, julukannya. Istilah “mural” sendiri di Surabaya tidak dikenal (saat itu). Istilah yang lebih dikenal adalah grafiti.

Jadi, waktu bikin seminar di kampus itu cukup menyedot perhatian mahasiswa. Sayang saya kehilangan foto dokumentasinya saat itu. Setelah seminar itu kami bikin festival mural dulu di kampus sebagai “cek ombak”. Seperti biasa, otoritas kampus masih “wait and see”. Jadi ijin masih belum bebas. Banyak ditolaknya hehehe…waktu bikin festival mural itu bahkan ada bagian khusus dari kampus yang tujuannya melihat visual untuk dicek sesuai visi dan misi kampus hahaha…ruwet lah pokoknya.

Pak Dosen Membaur Bersama Bonek Berjalan Menuju Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya. (Dok Pribadi OBC)

Namun justru kami lebih semangat. Program studi malah “meliburkan” selama dua hari saat ada festival mural itu. Jadi medianya tripleks. Dilombakan. Di luar dugaan, banyak sekali yang ikut. Mahasiswa sangat antusias. Tripleks yang kami sediakan buat 60 peserta terasa kurang. Ditambahi lagi hingga hampir mencapai 90 tripleks. Aturannya tiap peserta hanya bikin mural di 1 tripleks eh malah ada yang mau 2 tripleks. Ya sudah, kami fasilitasi. Ternyata itu adalah awalan heboh. Begitu selesai, mural di atas tripleks itu kami pajang di pintu masuk sepanjang kampus Petra gedung (P).

Tak disangka, Walikota Bambang DH dan Wakil walikota Arif Affandi yang mengetahui kegiatan ini berniat juga memajang hasil karya mural itu untuk dipasang di pagar Balai Kota. Penuh mengelilingi Balai Kota. Kami sangat terkesan juga dengan audensinya saat itu.

Habis acara itu, kami luncurkan event Gerakan Mural Kota. Mahasiswa bisa dibilang edan-edanan. Yang mendaftar ingin ikut hampir 3 angkatan. Jika 1 angkatan ada 200 mahasiswa, bisa dibayangkan berapa orang yang ingin ikut kan? Hehehe…tapi karena sistem seleksi, jadinya kami tidak mau menerima hasil yang seadanya saja. Karena ini seni di ruang publik, harus tetap dijaga kualitasnya. Kalo tidak, kami khawatir malah jadi sampah visual.

Keberhasilan Gerakan Mural Kota itu dalam sejarah harus ada “korbannya”. Saya sampai pernah “disidang” teman-teman grafiti di distro Rotten Apple (saat itu distro ini jadi jujugan anak muda Surabaya). Sebabnya, saya “membersihkan” grafiti-grafiti di tembok DLLAJR A.Yani. Mereka tersinggung. Saya masih ingat, dua malam saya diteror pesan di SMS saat itu, belum ada WA. Akhirnya saya mengajak mereka bertemu. Teman-teman saya di panitia sudah mau ikut nemani, tapi saya bilang tidak perlu. Saya saja, ijenan hehehe…dan benar saja siang itu saya “disidang” oleh puluhan bomber.

Awaydays Di Bandung. (Dok Pribadi OBC)

Mereka intinya tidak terima karya grafitinya saya putihkan untuk kegiatan mural kota. Sepanjang pembicaraan, saya berposisi sebagai pendengar. Saya mendengarkan mereka. Saat semua sudah ditumpahkan, saya yang akhirnya minta maaf dan mengajak mereka ikut partisipasi di kegiatan mural sebagai tanda permintaan maaf saya. Dari hal tersebut saya mendapatkan “kuliah” juga dari mereka dan itu yang menjadi pijakan kami selanjutnya. Hubungan saya dengan mereka malah akhirnya baik dan cair. Hingga sekarang kami berteman.

Itu awal berkesenian mural, hingga saya dan beberapa teman di kampus bikin komunitas Tiadaruang. Tahun 2007 karena aktivitas mural ini, komunitas kami diundang untuk membuat karya seni dan dipamerkan di Biennale Jogja. Tahun 2009 (kalo tidak salah) kami masuk dalam liputan majalah seni rupa nasional (majalah Visual Art) saat menurunkan empat kota mural di Indonesia.

Banyak tempat yang kami “kunjungi” untuk kami coreti entah beruwujd mural, grafiti, atau stencil. Tempat-tempatnya antara lain: tembok di Sidoarjo saat protes tentang Lapindo, tembok kantor sebuah ormas dan tembok Grahadi saat ramai pilkada, pos Dishub depan Santa Maria, tembok di Ketabang Kali, jalan aspal di perempatan Darmo, tembok di area Jemursari, Jemur Handayani, Siwalankerto, Kutisari, Siola, Dispendukcapil, tembok BAT (sekarang jadi Marvell City), dan lain-lain.

Saat sekarang karya teman2 muralis tambah banyak dan lebih bagus-bagus, sudah saatnya kami menarik diri sambil sesekali masih di jalanan, biar tidak lupa atmosfernya hehehe…

Pak Dosen Memberi Pengarahan Kepada Mahasiswa di Selasar Universitas Kristen Petra. (Dok Pribadi OBC)

Komunitas Tiadaruang sekarang fokusnya bikin mural di sekolah-sekolah yang membutuhkan ada muralnya tapi terkendala biaya material dan jasa muralis. Kami menggratiskan itu asal pas dengan waktu kami. Paling berkesan adalah bikin mural di atas gunung (lereng Wilis) di Kediri. Sekolahnya anak-anak TK di sana. Begitu mural selesai, guru-gurunya menangis haru.

(Gf)            : AZA pernah bilang ke saya soal kanal intelektual, menurut mas obed, apakah kanal-kanal intelektual dalam komunitas bonek itu harus ada dan perlu diadakan, jika diadakan komunitas apa yang bisa di sebut kanal intelektual ?

(OBC)         : ”Saya sebenarnya tidak begitu suka dengan pembagian-pembagian seperti ini. Serasa eksklusif. Tetapi jika dikata tidak penting, ya keliru juga sih. Kanal intelektual ini bisa menjadi semacam think-tank dalam alternatif berpikir di luar manajemen Persebaya itu sendiri. Wacana kritis dan pemikiran alternatif seperti halnya dalam atmosfer akademis perlu dilakukan dalam membaca Persebaya dan sepak bola itu sendiri. Jadi bukan hanya pada riuh dukung-mendukung tapi harus pada pengembangan wacana. Bonek Campus (BOCA), Komunitas Pemerhati Sejarah Persebaya, dan Bonek Writer Forum (BWF), mungkin juga bisa dimasukkan dalam kanal intelektual ini. Ketiga komunitas itu memiliki potensi karena bagus dalam mengembangkan budaya literasi.”

(Gf)          : Nah ini terkait mbonek-mem-mbonek mas, bagaimana mas obed membagi waktu ketika match dan kerja?

(OBC)         : ”Waktu mengajar saya lebih fleksibel sifatnya. Beberapa kali match home di hari biasa, saya pas tidak ada waktu mengajar jadi bisa ke stadion. Namun berangkat ke stadion pun saya memilih datang lebih awal. Konsekuensinya saya membuat jadwal dengan mahasiswa juga lebih awal buat konsultasi akademik. Selain jam mengajar, kehadiran di stadion juga tergantung dengan kondisi badan. Jika pas ada waktu ke stadion tapi kondisi tidak fit, maka jalan lainnya adalah nonton lewat tivi atau nobar dengan teman-teman di kampus.

(Gf)           : Bagaimana ketika awaydays ?

(OBC)         : “Saat jadwal match dulu sudah keluar, saya sering menandai jadwal tanding Persebaya termasuk jadwal awaydays. Biasanya saya sudah siap-siap juga buat cuti atau ijin atau atur jadwal sendiri dengan mahasiswa.”

(Gf)            : Sebagai akademisi, mas obed pasti punya formula bagaimana membangun paradigma bonek yang baik?

(OBC)         : “Suporter itu terkait dengan histeria massa. Histeria semacam ini tidak selamanya buruk selama diarahkan dengan benar. Saya kira saya tak perlu bikin formula, karena seiring dengan kedewasaan Bonek, hal-hal yang positif akan mengiringi. Sekarang saja sudah kita petik buah-buah kebaikan itu kan? Buah-buah kebaikan ini tentu saja tumbuh seiring dengan bagaimana Bonek juga menanam hal kebaikan. Itu saja yang harus selalu ada dalam benak kita. Ibarat gelas diisi air setengah, pasti ada yang melihat bagian airnya dan yang lain melihat bagian kosongnya. Yakini saja hal-hal baik akan datang bersama saat kita menanam.”

Obed Bima Chandra (Memegang Mic) Menjadi Narasumber Di Sebuah Acara. (Dok Pribadi OBC)

(Gf)            : Mulai mendukung dan terlibat dalam aktivitas bonek sejak kapan?

(OBC)         : “Dulu saya tidak memiliki banyak waktu dan perhatian pada Persebaya dengan hadir di stadion langsung, apalagi saya besar di Kediri. Perhatian saya pun hanya pada sekolah hehehehe…namun segala berita tentangnya selalu saya baca. Termasuk pertandingannya saya ikuti yang paling banyak lewat koran Jawa Pos atau kalo tidak sesekali lewat radio. Jadi meskipun saya tidak hadir di stadion, ingatan saya tentang Persebaya sangat kuat. Apalagi bapak (alm.) saya juga fans Persebaya dan juga Niac Mitra.

Saya pun hanya sekali ke Tambaksari saat Persebaya vs Persik sekitar tahun 2004-an. Yang lain saya terlalu fokus menjadi dosen muda yang biasanya mendapat tanggungjawab sangat besar dibandingkan yang lain. Saat Persebaya dizolimi PSSI itulah saya mulai mencurahkan perhatian pada Persebaya seiring kerjaan tidak sebanyak waktu dulu. Tulisan-tulisan mengenai sikap saya tentang Persebaya sering saya unggah sebagai status di Facebook. Apalagi saat Bonek melakukan perlawanan melalui Save Persebaya, saya sering ikut mengunggah sikap di media sosial. Mungkin karena jiwa aktivisme 90-an saya muncul lagi saat melihat ketidakadilan, otomatis perlawanan yang muncul. Saya “beraktivitas” sebagai Bonek ya sejak tergabung di BWF, selain itu suporter cair saja, casual hehe…”

Jika Waktu Tidak Memungkinkan, Nonton Bareng (Nobar) Bersama Mahasiswa Dan Dosen Kerap Dilakukan Pak Dosen. (Dok Pribadi OBC)

(Gf)          : Belakangan mas obed pernah di review aksi pawai tunggal ketika Liverpool FC juara musim lalu, bagaimana perasaan mas obed waktu itu, apakah reaksi haters saat itu ketika melihat mas obed pawai tunggal?

(OBC)         : “Saat itu sebenarnya saya sudah rencana hari Rabu siang, tepat pada saat malamnya si Hendo resmi angkat piala. Namun sepeda motor mengalami kerusakan, sehingga saya mundurkan hari Jumat. Itu pun saya konsultasi dulu dengan mas Joko (fotografer KoncoMbonek), karena dia yang dekat dengan polisi. Apakah motor saya dibolehkan lewat jalan raya mengingat saya membawa dua bendera di jok motor. Saya hanya cari lancarnya saja. Kan ndak lucu kalo ada haters yang lihat saya diberhentikan di tengah jalan oleh pak Polisi hahahaha…

Jelaslah banyak yang memperolok terutama dari haters Liverpool hahahaha…tapi saya sih santai saja. Mau dibilang “juara 30 tahunan”, “lebay”, “alay”, saya ndak ambil pusing hahaha….losssss gak rewel! Di jalanan malah saya dibantu ada pengemudi Gojek yang fans Chelsea saat di Jl. Mayjend Sungkono lalu lintas macet karena ada pekerjaan gorong-gorong. Ia membukakan jalan ke saya hehehe…yang lain banyak juga yang motret-motret gitu dari dalam mobilnya sambil mereka melambai-lambaikan tangan.

(Gf)             : Sebagai bonek, bagaimana pandangan kolega di tempat kerja?

(OBC)         : “Agak “aneh” sih. Justru kalo kolega menganggap biasa, karena mereka tahu kalo saya suka sepak bola. Mahasiswa yang agak gimana gitu hehehehe…mungkin karena mereka anak kelahiran ‘80an yang menerima cerita tentang keburukan Bonek hahaha…namun seiring waktu, mereka ya biasa juga. Saat Persebaya juara Liga 2, saya malah mundurkan jadwal kuliah 2 jam ke belakang, karena saya ingin hadir di Bundaran Waru melihat suasana yang sama saat dulu 2004 Persebaya juara Liga Indonesia.

(Gf)           : Mas obed juga diketahui sebagai penggagas wani nulis di web/blog Bonek Writer Forum, apakah kegiatan tersebut masih berjalan?

(OBC)         : “Saya bukan penggagasnya sih. Saya mungkin masuk grup BWF setelah ada sekitar 8 orang di situ. Iya, masih aktif sampai sekarang.”

(Gf)             : Bagaimana kiat-kiat mas obed untuk menarik dan mendorong penulis-penulis bonek yang mungkin masih sungkan bergabung di BWF?

(OBC)         : “Saya mungkin yang paling rikuh dulu waktu diajak bergabung. Saya bukan siapa-siapa dalam dunia perbonekan. Maklum, semua yang ada di situ adalah Bonek-Bonek lama yang malang melintang di dunia Persebaya hehehe…sementara saya praktis muncul saat Persebaya justru dimatikan oleh PSSI. Mereka juga dulunya penghuni tribun di Tambaksari. Saya bukan. Saya merasa hanya jadi remahan saja di grup itu hahahahhahaa…tapi ya pede saja sih. Kebetulan juga sebelum masuk grup itu saya sudah berulang kali menulis tentang Persebaya dan Bonek dari sisi budaya visual. Di beberapa kota yang saya kunjungi saat konferensi nasional pun mereka juga memberi stempel “Bonek” pada saya hahahaha jadi pede sajalah. BWF adalah tempat kita latihan menulis bersama tentang sepak bola, Persebaya, dan juga Bonek.”

(Gf)           : Bagaimana menurut mas obed terkait sengketa Mess Karanggayam?

(OBC)         : “Meskipun memang Persebaya sudah menjadi PT, menjadi hal yang lucu jika fasilitas pemerintah kota tidak digunakan untuk mengembangkan persepakbolaan di Surabaya. Mess Karanggayam menjadi simbol bagi lahirnya pesepak bola tanah air asal Surabaya. Saya berada dalam sikap bahwa jika memang Mess Karanggayam menjadi milik Pemkot Surabaya, tapi penggunaannya haruslah untuk Persebaya Surabaya. Nama “Surabaya” toh melekat dalam nama klub legendaris ini. Pemerintah kota mana yang tidak membebaskan klub asal kotanya untuk menempati tempat yang berasal dari pajak warga kota Surabaya. Sedih rasanya, jika Persebaya dipersulit latihan di Gelora 10 November, sementara di sisi lain ternyata klub lain bisa dengan santainya berlatih di stadion kebanggaan Persebaya dan Bonek itu. Ketidakadilan macam apa ini?!”

(Gf)            : Diketahui BWF hanya memberi layout/flyer di feed instagram BWF terkait rebut-ribut soal mess itu, apakah BWF akan membuat rangkuman “ekspresi” bonek dalam jurnal?

(OBC)         : “Sudah banyak rencana ke situ, termasuk kajian kritis dari teman-teman. Salah satu tulisan di buku Make Persebaya 92eat Again sepertinya ada yang menuliskan hal itu. Jadi, ribut-ribut ini sudah “dibaca” oleh beberapa teman di BWF dalam beberapa waktu sebelum ramai sekarang.

(Gf)            : Harapan mas obed untuk komunitas-komunitas bonek yang ada?

(OBC)         : “Masyarakat luas sudah mengapresiasi Bonek dengan baik. Saya salah satu saksi dalam mendengar beberapa kalangan bersimpati pada Bonek sekarang termasuk dari kalangan akademis. Masa lalu biarlah berlalu, kini kita bikin sejarah yang baru. Kebaikan-kebaikan yang ada sekarang, teruskan! Tak perlu berharap mendapatkan imbal balik dari apa yang ditanam, yang penting lakukan saja pekerjaan baik sebagai Bonek!”

(Gf)           : Harapan mas obed untuk Persebaya jika benar-benar regulasi mendatang murni memakai pemain lokal?

(OBC)         : “Tentu ini kesempatan yang sangat bagus buat pemain klub-klub internal untuk kompetitif masuk dalam tim senior Persebaya. Saya kira kebiasaan Persebaya dalam mengambil bibit unggul dari tim internal harus cerdas. Dalam BWF ada ahli dalam statistik pemain, jika saja Persebaya membutuhkan masukan alternatif dari kami tentu kami akan senang memberikan masukan untuk tim manajemen Persebaya. Mau pemainnya lokal atau internasional, Bonek akan selalu mendukung.”

(Gf)            : Terima kasih banyak mas dosen pencerahannya

(OBC)         : “Sama-sama, Wani!”

Demikian percakapan greenforce bersama dosen dan juga seniman mural ini. Mas obed meletakan pemikiran kritis terukur bagaimana menjadi kanal intelektual yang harus mampu menjadi pemikir alternatif untuk persebaya.

“Apa yang kita tanam, akan kita petik kemudian,” begitu pesan ayah 1 putri dalam percakapan ini. (tr)