Antara Persebaya, pemkot dan GBT

0
379

By: Kukuh Ismoyo

Manajemen Persebaya (Jawapos) dan Pemkot Surabaya iku ibarat banyu lan minyak. Jomblo dan Jodohe. Adoh dan gak iso pethuk. Soal GBT dan tetek bengeknya saja, ternyata masih menjadi masalah pelik yang sulit dicari ujung pangkalnya. JawaPos mengklaim bahwa mereka memang menyewa, tapi selalu membayar lunas bea sewanya dan memang selama ini Persebaya selalu diperbolehkan untuk menyewa GBT oleh Pemkot Surabaya. Namun seperti yang kita tahu, GBT menyisakan banyak masalah yang menyesakkan terutama bagi Bonek. Tidak sekali kejadian saja dimana bonek jadi Korban ketidakbecusan panpel dan peliknya Pemkot Surabaya (dalam hal ini Dispora) memperlakukan Persebaya dalam penyewaan GBT. Sungguh amat disayangkan Klub kebanggaan warga Surabaya justru tidak didukung walikota dan segenap jajarannya. Emane….

Melihat hal ini saya kira Jawapos harus bersikap tegas terhadap Pemkot cq Dispora Surabaya. Jikalau hak sebagai penyewa tak diperhatikan, dan sikap Pemkot sendiri masih terkesan aras-arasen tidak peduli terhadap Persebaya, ya sudah, gertak saja.

Pertama, bikin ultimatum tentang tidak dipenuhinya hak-hak Persebaya menyewa GBT oleh Dispora, seperti : Lahan parkir yang disediakan tidak dibuka, koordinasi lapangan yang tak sesuai seperti sebelumnya, dll… Blow up saja, biar semua tahu bahwa memang Pemkot dan Dispora tidak pernah Pro ke Persebaya —dan memang, sejak masa perjuangan pengembalian persebaya pun demikian.

Jika hal yang pertama masih tak digubris Pemkot, ya sudah, tinggalkan, cari lainnya. Toh, buat apa nyewa kalau dipulosoro, sudah bayar tapi gak dipenuhi hak-hak sewanya. Cari aja stadion lain yang mau penuhi itu. Dan kita pasti tau, yang rugi ujung-ujungnya ya Pemkot sendiri, karena gak dapat uang masuk dari sewa Stadion GBT—sementara mereka pasti keluar duit buat bayar pemeliharaannya.

***

Lho.. Lho.. Tunggu, ini kok kayak era IPL jaman Gede widiade yang mau pindah home base ke Bangkalan?

Benar, tapi beda.

Dulu, jaman IPL, GW mau pindahkan ke Bangkalan alasannya karena sewa GBT terlalu mahal, sementara yang nonton terlalu sedikit, sehingga menurut GW, Persebaya saat itu merugi karenanya. Nah, permasalahan Persebaya saat ini kan, bukan itu. Tapi murni karena kedua pihak antara Pemkot dan Persebaya tidak bisa bersinergi dengan baik.

Apakah tidak memantik reaksi dari bonek?

Sudah pasti…. Tapi mengingat tidak adanya itikad baik Pemkot untuk duduk bersama manajemen Persebaya, saya kira Pindah Home base bisa jadi tak bisa dielakkan. Daripada Jawapos selalu merasa kena batunya pas menggelar pertandingan dan kadang menyisakan tragedi karena keruwetan yang terjadi, mengapa tidak? Toh, bonek juga tau betapa nggathelinya Pemkot terhadap Persebaya.

Menurut saya, win-win solution agar kepindahan Home base Persebaya tidak memantik begitu banyak reaksi berlebihan, ya cuma ke Gelora Joko Samudro, Gresik, yang cuma sepelemparan batu dari Gelora Bung Tomo, Surabaya. Toh, bukan cuma Persebaya saja yang home basenya gak di kota sendiri. Nama-nama besar lain seperti Persija dan PSIS juga masih main di kota lain karena satu dan lain hal (tidak menutup kemungkinan juga PSMS karena stadion Teladan yang kurang representatif) dan masih tetap dibanjiri suporter kesayangannya, ya kan?

Jadi, gimana?
Mau rembug atau pindah? Keputusan jelas ada di tangan keduanya.

Dan tentunya semua pasti ada pro-kontranya.
Sing pasti, semoga yang terbaik saja untuk Persebaya.

—————-
Nb: INI BUKAN AJAKAN UNTUK SETUJU PINDAH HOMEBASE. SAYAPUN MASIH BERHARAP TETAP DI GBT BILA PEMKOT DAN MANAJEMEN BISA DUDUK BERSAMA-SAMA DEMI KEBAIKAN PERSEBAYA DAN BONEK.

Tinggalkan Komentar