Mempertanyakan Ambisi Persebaya Lewat Perekrutan Dutra

0
204

By Radian Danni Pranata

Sebuah kejutan diumumkan oleh manajemen Persebaya melalui akun media sosial mereka. Skuad Bajul Ijo untuk mengarungi Liga 1 resmi kedatangan pemainpemain yang memang telah lama beredar namanya. Osvaldo Haay, Ruben Sanadi, Ferdinando Pahabol, Nelson Alom, keempat pemain asal Papua telah menginjakkan kakinya di Kota Pahlawan. Mereka dengan bangga berfoto bersama manajer Persebaya, Noor Arief Budiman dan dengan seorang pemain asing yang membuat adrenalin Bonek meningkat, Otavia Dutra. Sungguh sebuah kejutan yang tidak menyenangkan.

Nama pemain asal Brazil itu sudah mencuat sejak isu transfer mulai menyeruak, Salah satu media sempat mengadakan poling mengenai pemain asing yang pantas memperkuat Persebaya dan nama Dutra ada disana bersama Vladimir Vujovic dan Shohei Matsunaga. Yang bersangkutan pun sempat terlihat di tribun VVIP di pertandingan Liga 2 yang melibatkan Persebaya. Reaksi Bonek pun mulai bermunculan, pro dan kontra kehadirannya menyeruak, bahkan tagar #TolakDutra / #MenolakDutra sempat muncul di media sosial. Pihak yang kontra pun akhirnya harus mengelus dada karena pemain yang dulu menjadi tandem Goran Gancev dan Michael Cvetkovski saat IPL itu telah resmi kembali menjadi bagian dari The Green Force.

Secara teknis sebenarnya Dutra memiliki kualitas yang cukup mumpuni, dia berhasil meraih gelar bek terbaik pagelaran Liga 1 musim lalu (meski sebenarnya kita masih harus mempertanyakan kriteria penilaian, karena kita tahu bersama bagaimana gelar juara Liga 1 ditentukan). Dia pun sudah cukup kenyang pengalaman bermain di Indonesia. Tercatat dia pernah memperkuat Persegres dan juga Persipura. Namun ada hal – hal lain yang sebenarnya patut kita pertanyakan, usianya yang menginjak 35 tahun dan juga tingkah lakunya saat memperkuat Persebaya dan kemudian menjadi pemain dari Bhayangkara FC, Dutra yang sekarang bukanlah Dutra yang sama seperti saat pertama kali datang ke Indonesia.

Sudah selayaknya kebijakan perekrutan pemain dan ambisi Persebaya dalam mengaurngi Liga 1 musim ini dipertanyakan oleh para stakeholder (termasuk Bonek). Jika memang berniat berprestasi kenapa tidak berusaha menghadirkan pemainpemain yang benar – benar berkualitas? Bukankah Persebaya Surabaya adalah salah satu tim besar Indonesia? Kenapa yang datang pemain dari 1 tim yang sama? Apakah mereka memang yang terbaik atau memang manajemen kekurangan referensi? Rasanya tidak kurang diluar sana pemain lokal berkualitas yang ingin memperkuat Persebaya, Andik Vermansyah misalnya.

[artikel number=3 tag=”dutra” ]

Mengenai pemain asing, di saat Persib Bandung mampu menghadirkan bek terbaik Liga Hongkong Bojan Malisic, Bali United merekrut Demerson yang pernah bermain bagi Chapecoense, Sriwijaya FC yang memperkuat tim dengan bomber timnas Tajkistan Manuchkr Dzhalilov atau bahkan Mitra Kukar yang mampu merekrut Danny Guthrie yang kenyang pengalaman di English Premier League, Persebaya justru mendatangkan pemain yang telah memasuki akhir era bermainnya. Belum lagi kabar bahwa yang akan datang lainnya adalah pemain yang “hanya” berasal dari Divisi 2 Liga Argentina. Sebenarnya manajemen ingin membuat Persebaya kompetitif atau tidak? Bukan berarti Persebaya harus merekrut pemain sekelas Leonardo Bonucci atau Radja Nainggolan, tetapi manajemen seharusnya lebih dari mampu untuk menarik minat pemain yang lebih berkualitas dan lebih mampu meningkatkan kualitas tim.

Merekrut Dutra bisa jadi adalah sebuah kesalahan, bisa jadi juga menjadi sebuah kekuatan. Tapi ada baiknya manajemen tidak lupa mengenai kasus Iwan Setiawan, bagaimana resistensi Bonek atas kehadirannya di awal Liga 2 karena mempertanyakan kualitas dan perilakunya sampai akhirnya dia diberhentikan karena permainan Persebaya tidak kunjung membaik dan mengucapkan kalimat yang memancing amarah Bonek. Seolah manajemen menutup mata dan tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu, pendapat Bonek sekali lagi tidak didengarkan,

Betul kami mungkin tidak memiliki kapabilitas untuk memahami kebutuhan teknis tim tapi kami cukup mengerti bahwa apabila seseorang sudah pernah berkata “Bagi pemain itu biasa, karena kami harus kasih makan keluarga. Tapi menurut saya orang yang bicara itu bukan Bonek, karena Bonek selalu mendukungku dan klub” maka dia tidak pantas mendapatkan dukungan kami dan mengenakan seragam hijau kebanggaan Persebaya. Dia bisa bermain nanti tapi mungkin sambutan untuknya tidak akan semenyenangkan yang dipikirkannya, Sebaiknya dia meminta maaf terlebih dahulu lalu menunjukkan kualitas dan permainan mati – matian sejak hari pertama, karena jika tidak dia akan berakhir seperti seorang Iwan Setiawan.

Tinggalkan Komentar