Surabaya, greenforce.co.id – Līga Surabaya (LS) tidak pernah surut talenta berbakat di olahraga sepak bola. Olahraga yang banyak diminati ini penuh persaingan kuat, sehingga untuk bisa bersaing, setiap talenta harus terus mengasah diri dan mengembangkan kemampuan untuk terus tumbuh menjadi pemain profesional.

Adalah Muhammad Zhafir Ad Yoca, atau yang akrab dipanggil Muzha. Anak berusia 10 tahun ini lahir dari sebuah produk kompetisi yang bernama Liga Surabaya, sebuah kompetisi resmi Askot PSSI yang diinisiasi oleh Koperasi Abadi Surya Persebaya (KSAP).

Bakat sepak bola Muzha mulai terlihat sejak ia masih kanak-kanak, ia kelahiran 2016, Muzha telah mengikuti Līga Surabaya dalam kelompok umur (KU 10 dan KU 11), ia menempa kemampuan mengolah si kulit bundar dari klub/SSB PANGGRES FA Gresik.

Yang menarik dari perjalanan Muzha ini tak lepas dari parenting kedua orang tua yang mendukung penuh minat dan bakat putra mereka.

Muzha adalah putra dari pasangan Yoyon dan Nica Sayumi. Kedua orangtuanya sangat aktif mengikuti aktifitas putranya di segala aktifitas sepak bola.

Pemain kelahiran Surabaya ini kerap mengikuti event yang diselenggarakan Persebaya selain kompetisi maupun turnamen.

Muzha juga beberapa kali ikut dalam player escort pada laga-laga Persebaya di Gelora Bung Tomo (GBT), ia juga aktif dalam futsal sekolah yang menjadi ajang dirinya mengasah feeling ball.

Siswa SD Muhammadiyah 2 Gresik ini memiliki cita-cita menjadi bagian dari Persebaya kelak, sebagaimana ia sangat mengagumi Fransisco Rivera dan Tony Firmansyah.

Untuk menuju langkah tersebut setidaknya tinggal waktu menuntun dirinya untuk mewujudkan cita-cita, hal itu ditandai capaian ia menjadi bagian dalam turnamen Singa Cup 2026 di Singapura sebagai kunci untuk dirinya memulai impiannya.

BACA JUGA  Lawan PSM Makassar Tavarez Terharu Sambutan Fans PSM

Muzha terpilih sebagai pemain yang ikut turnamen Singa Cup di Rainforest Sports Hub, Singapura pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Pemain yang biasa bermain di posisi CMF, DMF, dan CB di format 7 vs 7 ini tidak sendiri mewakili Jawa Timur dari Līga Surabaya. Musha bersama Muhammad Iqbal Arsakha Rihardhikho (Arsakha) dan Rajendra Ardhan Suhaikin (Ardhan) bersama anak-anak terbaik dari SSB se-Indonesia.

LIGA SURABAYA GERBANG MENUJU INTERNASIONAL

Selain Muzha, dua kawannya yang bersamanya ke Singapura adalah jebolan klub internal anggota Persebaya.

Arsakha diketahui bermain di klub El-Faza, klub yang memiliki alumni seperti Risky Ridho, Andhika Ramadhani, dan banyak lagi.

Ada juga Ardhan. Bocah ini menimba ilmu sepak bola di Aji Santoso International Football Academy (Asifa). Dengan jaminan kurikulum dan nama besar Aji Santoso yang menjadi legenda Timnas dan Persebaya, dan banyak alumninya, membuat ketiga wakil Jawa Timur ini menjadi talenta yang memenuhi kualifikasi dengan baik.

Dalam turnamen Singa Cup 2026 ini mereka akan berhadapan dengan SSB beken dari tiap negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Laos, India, Mongolia, Australia, dan Kanada.

Liga Surabaya
Muzha (kanan) bersama rekannya saat di Bandara Internasional Singapura (dok. Muzha)

PERAN ORANG TUA ADALAH KOENTJI

Ketiga anak yang ikut dalam turnamen di negeri tetangga ini memiliki restu dan dukungan orang tua mereka tentunya.

Sebut saja orang tua Muzha, Nica Sayumi. Bunda Muzha ini selalu terlihat di lapangan kompetisi Līga Surabaya setiap pekan.

Ia rela pulang pergi mengantar buah hatinya bertanding dan latihan dari Gresik ke Sidoarjo. Ketekunan dan kesabaran inilah yang mengantar anak mereka tumbuh semangat hingga mengantar mereka terpilih menuju Singapura.

Nica Sayumi menyadari bahwa mendorong keinginan anak menjadi satu tanggung jawab, namun ia juga siap jika kelak anak mereka tidak menjadi pemain profesional di kemudian hari.

BACA JUGA  Kalah Lawan PSM Makassar, Tavarez : "Kami Akan Evaluasi"

Secara tegas Nica Sayumi tidak membebani sang anak untuk menjadi pesepakbola profesional, artinya segala proses harus dijalani dan dinikmati, untuk kemudian mengantar kemana, Nica menuturkan semua bergantung pada keinginan yang kuat.

Nica beranggapan bahwa tugas orang tua adalah mengantar proses yang dijalani anak, dalam berikhtiar menuju yang diidamkan si anak.

“Sebagai orang tua tugas utama adalah mendampingi proses dan berikhtiar, berdoa, dan bertawakal” ucapnya.

“Sebagai wali murid kami hanya berikhtiar, berdoa, dan bertawakal sesuai konsep iman dalam Islam. Kami mendampingi proses anak dengan sebaik-baiknya dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.” sambungnya.

Bunda Nica memiliki pandangan bahwa karir kesuksesan anak dalam bermain sepak bola bukan diukur dari kesuksesan menjadi pemain profesional.

“Meskipun kelak anak tidak menjadi pemain profesional, paling tidak anak mendapatkan pendidikan akhlakul karimah melalui sepak bola. Anak belajar disiplin, menghormati pelatih, menghargai teman, bertanggung jawab, serta memiliki mental yang tangguh ketika kelak menghadapi kehidupan saat dewasa.” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa nilai-nilai itu justru sebagai warisan yang menjadi bekal proses anak bertumbuh kembang, dan semua didapat di lapangan sepak bola.

 

______________

greenforce.co.id

tonirupilu /pre

yans.loss27/pho