Kristina Olivia Damayanti : “Seni Budaya Harus Menjadi Jatidiri”

0
608
Krisitna di Gelora Bung Tomo Surabaya menyaksikan laga Persebaya. (Foto Koleksi Kristina)

” Sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya “ kata Mahatma Gandhi. Menurut Koentjoroningrat pengertian kebudayaan adalah “Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”, atas dasar pemikiran tersebut maka orang per orang yang terlibat di dalamnya, adalah bagian dari lingkaran status masyarakat itu sendiri. Dalam koridor seni budaya, ada hal menarik yang patut mendapatkan apresiasi dimana peleburan budaya ke dalam dunia supporter sepak bola bisa di awali dari Surabaya.

Kristina dalam seragam tari di sebuah performa membawa mini flag komunitasnya. (Foto Koleksi Kristina)

Adalah Kristina Olivia Damayanti,  Gadis asal Surabaya adalah seorang pendukung Persebaya yang di kenal sebagai Bonita. Kristina dan kawan-kawannya yang tergabung dalam komunitas “BRANG WETAN” mengusung kebudayaan seni tari Remo yang di modifikasi dalam “REMO REK” sebagai identitas tunggal karakter Surabaya yang kental. Dalam beberapa performa mereka kerap menampilkan simbol dari Bonek itu sendiri. Lagu “Emosi Jiwaku” menjadi pembuka mereka dalam menampilkan tari Reog yang notabene adalah tarian daerah Ponorogo Jawa Timur.

Kristina dan kawan-kawan begitu percaya diri dalam mengombinasikan seni budaya dan sepak bola itu sendiri. Cak Abing selaku guru SMKN 12 dan pembina komunitas Brang Wetan membenarkan hal tersebut dalam wawancara bersama greenforce.co.id kemarin (25/1/2020) di kantor sekolah. “kami ingin seni budaya remo ini masuk di tribun sebagai karakter surabaya itu sendiri, setidaknya gerakan dan bahasa tubuh seni tari tersebut menjadi pembeda dari kultur yang ada saat ini” kata guru asal Blitar Jawa Timur tersebut.

Kristina dan kawan-kawan penari dalam sebuah acara komunitas Bonek, mereka menampilkan tari Remo dengan menggunakan atribut Bonek. (Foto Koleksi Kristina)

Di tempat yang sama Kristina mengatakan senada dengan pembinanya tadi, ” untuk memasukan budaya asli surabaya ke tribun memang sulit sampai saat ini, namun jika kami perform dalam bentuk flash mob di jeda waktu laga, mungkin akan menjadi keseruhan tersendiri, jika sudah begitu maka bonek akan merasa terbiasa dan kemudian dengan sendirinya akan menjadi kebiasaan bahkan menjadi tradisi di seluruh tribun” ujar mahasiswi Wilwatika semester 6 tersebut.

Kebudayaan orisinil mungkin masih menjadi hal yang canggung atau terkesan kurang modern di iklim sepak bola Indonesia pada umumnya, namun hal ini tidak sepenuhnya demikian adanya. Supporter Kalteng Putra misalnya, mereka kerap menampilkan identitas budaya mereka melalui atribut suku dayak dan lain-lain. Fans Persipura, mereka juga sering menampilkan tarian yospan dan atribut serta simbol-simbol kesenian etnis papua di manapun mereka berlaga. Tidak hanya di wilayah supporter, beberapa klub pun banyak menampilkan karakter dasar seni dan budaya mereka di jersey resmi.

Kristina dkk dalam sebuah pentas di sebuah acara seni. (Foto Koleksi Kristina)

Sebagai mahasiswa seni, Kristina dapat membaca ruang bagaimana kebudayaan dapat di sisipkan dalam wilayah supporter yang ia geluti. Apa yang di inginkan kristina tentu tidak bisa kristina seorang yang menjalankan harapan itu, harus ada banyak pihak yang mendorong dan mendukung upaya bonita alumni SMKN 12 surabaya tersebut. “menjadi supporter yang berkarakter berbasis kebudayaan lokal agar menjadi jati diri memang memerlukan proses dan banyak dukungan” imbuh gadis yang juga sebagai anggota komunitas bonek fanatical.

Pesona bonita dalam semangat memberi ide dan warna baru supporter yang berkarakter tentu menjadi sebuah rangsangan bagi sesama bonek untuk bersama merealisasikan guna sebagai pembeda. Apalagi Persebaya akan bertanding dalam level internasional (ASEAN) pada pertengahan tahun. Jenis tampilan dan kreasi berbasis kebudayaan dapat menjadi suluh identitas surabaya dan indonesia pada umumnya. Fans dari Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan lain-lain akan melihat dua tontonan secara bersamaan, sepak bola dan seni kebudayaan dalam 1 stadion. (tr)