
Surabaya , greenforce.co.id – Perubahan Bonek hari demi hari terus melahirkan terobosan menuju level up , dengan salah satunya mengembalikan tradisi tret tet tet .


Adam memulai dengan satu bus tanpa kaca dengan konsep old school , bus di hias dengan banyak spanduk dan grafitti. Diawali saat HUT Persebaya kontra Persija tanggal 18 Juni 2023, dan kemudian saat laga melawan Rans Nusantara di pekan ke-4 BRI Liga 1 tanggal 23 Juli 2023 lalu.

Badik menjangkau beberapa firma koordinator yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur dan daerah lainnya, mulai dari Bojonegoro, Pasuruan, dan Sidoarjo. “Aku dulu juga ada angan-angan punya gerakan estafet ke tret tet tet, bersyukur ada Adam, akhirnya ku bantu booming -kan, dan pas lawan Borneo janjian dengan Febri koordinator dari Salpon Boys Bojonegoro” ungkap Badik melalui chat whatsapp bersama greenforce.co. pengenal

Gebrakan ini disambut baik oleh beberapa koordinator firma. Mereka membuat grup whatsapp koordinasi khusus untuk memudahkan komunikasi menjelang hari pertandingan . Karena kebanyakan dari luar kota, mereka menyebut tret tet tet ini dengan istilah laga home adalah awayday .
Intensnya komunikasi dan respon positif bonek luar kota, saat laga pekan ke-13 kontra Arema FC, Badik mengatakan ada sejumlah 20 bus dari berbagai daerah menuju GBT saat itu.
“Kurang lebih 20 bus saat lawan Arema, dan sekarang banyak yang mengikuti dan menambah armada nya” sambung Badik. “Disini Adam sebagai inisiator, dan aku eksekutor yang menyampaikan ke publik” lanjutnya.
Badik menceritakan bahwa tret tet tet ini sudah ada sejak lama, setidaknya sejak Persebaya memakai Gelora Bung Tomo, hanya dalam perjalanan menuju stadion bonek memanfaatkan untuk beristirahat selama perjalanan, maka Adam membuat nuansa lain sehingga dalam perjalanan sangat menyenangkan.
Para pencetus tret tet tet terbarukan ini masih terus memperbaiki cara dan terus belajar dalam mengatur serta menggalang komunitas yang beragam-ragam. Adam dari Militan Jombang Mbois menambahkan bahwa dirinya dkk terus mengedukasi manfaat dan tujuan away menggunakan bus, maka edukasi dan sosialisasi terus di galakan untuk tercapainya tujuan tersebut.
” Selama ini kita masih perlu meng-edukasi tentang biaya. Masih banyak teman-teman beranggapan kalau ikut bus itu “mahal”, padahal tidak jauh beda dengan yang bersepeda motor, hanya selisih 10-20 ribu saja” papar Adam.
“Naik motor paling tidak butuh dana 170 rupiah, sedangkan 180 ribu sudah bisa naik bus, keselamatan insya allah terjamin, sebab kalau pulang kita capek dan ngantuk, sedangkan kalau naik motor sangat berbahaya kalau ngantuk” tegasnya.
Tercatat firma Bonek yang berlangganan menggunakan moda bus ini antara lain Militan Mbois Jombang, Avanti Pasuruan, dan Salpon Bojonegoro, dan data dari postingan Badik, ada 10 komunitas yang memakai bus dan elf dari Klaten, Mojosari, dan Nganjuk, Krian, Sidoarjo, Madiun, dan masih banyak lagi.
Memunculkan kembali tret tet tet adalah keresahan Badik dkk pada banyaknya kecelakaan dalam perjalanan menuju stadion. Tret tet tet adalah tradisi Bonek yang muncul pada medio 1980 akhir. Setelah itu, tret tet tet hanya dilakukan secara kecil dan tak masif seperti saat ini.
“Mengapa aku sangat mendukung terkait tret tet tet . Dari segi keselamatan, menjaga arek – arek gak ngantuk di jalan, kecelakaan di jalan, atau bahaya sartokan (jambret dan penjarahan) di daerah rawan” kata Badik.
Di tahun 2011/2012 seorang Bonek asal Pandaan meregang nyawa setelah di begal dan kehabisan darah dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Atas dasar tersebut Badik semakin semangat menyosialisasikan budaya ini kembali lagi.
Keselamatan menjadi dasar utama budaya Budal Bareng dikembalikan sebagai tradisi yang dimiliki Bonek. Badik tak ingin ada kecelakaan yang berakhirnya kematian dan cacat yang terjadi di Bonek dan Bonita.
“Kematian memang sudah menjadi takdir, tapi kalo luka? gegar otak? lumpuh? amputasi? cacat seumur hidup? kan masih bisa dicegah” terang Badik menjelaskan manfaat awayday yang terkoordinir ini.
Secara detail, pria yang juga ahli dalam menggubah lagu sebagai chant ini menjelaskan runut bagaimana me-minimilasir estafet yang belakangan sangat marak di kalangan supporter Persebaya ini.
Regenerasi ini menjadi kunci untuk membawa perubahan di kalangan Bonek. Dengan banyaknya Bonek yang ikut dalam rombongan, hal ini dapat menjawab keraguan banyak orang tua yang tidak mengetahui anaknya menuju ke stadion dengan cara berangkat sendiri-sendiri.
“Orang tua mengetahui kepergian anak-anaknya, jadi sedikit mengurangi rasa khawatir, orang tua yakin anaknya berproses dewasa, jadi harus bisa menjaga diri di dunia luar. mereka ini juga yang nantinya mengisi tribun untuk bernyanyi berdiri 2×45 menit, ketika generasi di atasnya mulai menepi “tutur Badik.
Banyak pengamatan badik yang detail dalam mengampanyekan budaya asli Bonek ini. Dirinya mengatakan juga kultur solidaritas Bonek sangat tinggi.
“Tiap match aku mengamati keadaan parkiran di GBT yang semakin tebal, artinya semakin banyak bonek yang membawa mobil, secara ekonomi mampu dan punya mobil, tapi bagaimana mereka yang tidak punya mobil? diajak teman mobilan ya alhamdulillah ada barengan” katanya .
Untuk Bonek luar kota yang dirasa cukup jauh menuju GBT, solusi menggunakan bus secara bersama-sama ini dirasa paling efektif kata pemilik nama di instagram BadikFals ini.
Yang kata menarik anggota tribun utara ini adalah tumbuhnya solidaritas sesama bonek. “Dengan adanya bis, memupuk rasa solidaritas, malah temen-temenku yang mobil ikut bis juga, lebih seru rame-rame di bis, meski ada juga yang bad boy, setidaknya tetap tertib, dan bisa bernyanyi bersama” tandasnya.
______
greenforce.co.id
tonirupilu/pre
yans.loss27/pho
