Tentang salam satu nyali

0
6132

“Salam satu nyali…. Wani!”

Entahlah, tak dapat saya mengerti siapa yang mengawali, siapa yang memunculkan ide awal pembuatan salam tersebut. Karena setahu saya (salam) itu memang tiba-tiba saja sudah menjadi produksi budaya bagi kalangan Bonek. Bonek adalah penjaga Persebaya. Oleh karena itu, bonek, sebisa mungkin dituntut untuk selalu low profil high product, agar mereka menginjak tanah sebagai bentuk kesadaran bahwa hakikatnya semua adalah sama di hadapan kibaran bendera Persebaya Surabaya. Salam satu nyali–wani, bukanlah salam yang tercipta pada rapat-rapat paripurna yang menghabiskan waktu dan anggaran serta rentan terhadap perpecahan. Namun ia adalah salam yang justru terlahir dari titik paling inti dari penolakan secara kolektif terhadap ketidakadilan yang dialami bersama. Sebagai pesan penting kepada penindas, bahwa : “kami (bonek) akan melawan sampai nanti, sampai mati”.

Salam satu nyali–wani, adalah cuatan respon harga diri bonek terhadap kesewenang-wenangan federasi dan sekutunya yang menjadi-jadi, yang memang relevan dengan kultur Suroboyoan yang identik dengan ngeyel, tanpa kompromi, militan, keras, apa adanya, dan yang jelas sikap Suroboyoan itu anti dengan segala bentuk penindasan. Ia begitu cepat menyebar dan menjadi pengontrol didih semangat perlawanan tanpa henti, perlawanan atas nama harga diri.

Satu, siji, setunggal, settong, adalah simbol dari ketegakan, ikon dari keutuhan, perlambangan dari sikap, konsistensi dan kejantanan terhadap persoalan-persoalan yang menanti jawaban-jawaban. Sedangkan nyali adalah bagian dari rasa yang letaknya berada di dalam diri. Nyali berada di tempat yang rahasia, lembut, tidak padat, yang setiap manusia tak mungkin bisa mendeteksi, atau menggunakan bahkan menciptakan detektor untuk mengukur, menakar, memparameter nyali dari setiap manusia secara gamblang. Yang bisa dilakukan adalah untuk mengamati output dari nyali, yakni wani atau berani dalam Bahasa Indonesianya. Tingkat keberanian –wani– antara satu manusia dengan manusia lain sangat kecil kemungkinannya untuk sama persis. Jelas unsur internal-eksternal yang sama sekali berbeda adalah kuncinya. Wani–berani– adalah kata sifat yang masih terjangkau untuk diketahui apabila ada sesuatu yang dilakukan, apa rangsangannya, seperti apa responnya dan bagaimana efek, akibat yang ia lakukan dengan merubah wani nya dari sifat menjadi perilaku, dan yang jelas pelaku memiliki alasan mengapa ia melakukan sesuatu itu.

Tetapi, dalam memunculkan wani yang bertitik pada akibat, perlu diberlakukan penataan manajemen, undang-undang, dasar pedoman dan juga kesepakatan norma sehingga memiliki ketepatan yang dapat meminimalisir akibat buruk dari keseluruhan output akibat yang dihasilkan. Diperlukan kematangan berfikir dan keseimbangan antara intelektual, emosional dan juga spiritual agar wani yang dimaksud adalah wani yang sesuai dengan wani yang diperhitungkan tepat pada sasaran subjek objek tertentu.

Sekarang yang terjadi dan menjadi kesepakatan masyarakat adalah dimana, wani atau berani, selalu diidentikan dengan hal-hal yang lekat dengan kekerasan, dimanifestasikan bahwa “wani” adalah kosakata yang selalu menuju kepada tindakan anarkis. Padahal, anarkis sendiri adalah kejadian yang terjadi karena pergerakan ruang dan waktu tertentu dalam satu konteks lingkaran yang didukung oleh berbagai macam anasir. Anarkis adalah salah satu dampak yang terjadi dari perilaku wani yang mengalami ketidaktepatan perhitungan, peta pemilahan, jangkauan objek dan lain sebagainya. Tetapi, dalam hal-hal tertentu, anarkis bisa menjadi hal yang harus dilakukan dengan catatan apabila sudah tidak ada lagi jalan keluar di jurang selain melawan dengan ketidakmampuan.

Bonek, sebagai “pemilik” Satu Nyali Wani sudah seharusnya menemukan dan mempertegas garis pengertian dan pemahaman dari “Satu Nyali–Wani” agar memiliki “controller” di dalam perjalananannya kedepan yang jauh masih panjang dan mengalami kerumitan-kerumitan perjalanan yang lebih rumit dari yang sudah atau masih dihadapi. Semoga “Satu Nyali–wani” tak hanya salam yang terdengar sekilas lalu. Ia akan terus menjadi bagian dari marwah perjuangan yang terus didengungkan bonek kala mendapati segala bentuk ketidakadilan. Sebab semua bonek adalah Satu. Semua bonek pasti bernyali, dan setiap yang bernyali, selalu berani (wani).

Salam satu nyali…. Wani!

Rifi hadju

Tinggalkan Komentar